PELUANG BISNIS UBI CILEMBU

DAI KEMBAR 100_1475-300x225 PELUANG BISNIS UBI CILEMBU    Banyak hal yang harus diperhatikan petani dalam membudidayakan ubi cilembu. Selain memperhitungkan kontur tanah yang akan digunakan untuk lahan penanaman, petani juga harus rajin mengairi lahan tersebut. Ubi cilembu juga tidak bisa dikonsumsi langsung setelah dipanen, tapi harus diperam dulu.

Ada sejumlah rambu-rambu yang harus diperhatikan petani jika ingin sukses membudidayakan ubi cilembu. Yang utama adalah masa panen. Lazimnya, tanaman ubi sudah bisa dipanen dalam waktu tiga bulan. Namun, ubi cilembu baru bisa dipanen setelah lima hingga enam bulan dari masa tanam.

Ubi cilembu juga memiliki keunggulan. Menurut Roni Triandi, seorang petani ubi di Desa Cilembu, Sumedang, ubi cilembu memiliki tiga varietas unggulan. Yakni, Nirkum, Menes, dan Amet “Ubi jenis ini bisa dua kali panen tiap tahun,” katanya Roni bilang, biasanya rata-rata lahan untuk membudidayakan ubi cilembu seluas 280 meter persegi. Total lahan seluas itu bisa menghasilkan sekitar 800 kilogram (kg) hingga 1.000 kg atau 1 ton ubi dalam masa sekali tanam. Dengan harga ubi cilembu mentah Rp 10.000 per kg, maka hasil panen sebanyak tadi bisa menghasilkan omzet Rp 8 juta hingga Rp 10 juta.

Roni memiliki lahan budidaya ubi cilembu seluas 1 hektare. Dari lahan seluas itu, dia bisa memanen hingga 2,5 ton ubi dalam satu kali masa panen. Dus, dari hasil panen tersebut dia bisa meraup pendapatan Rp 15 juta “Omzet itu sudah dipotong biaya penanaman dari awal tanam hingga panen yang mencapai Rp 10 juta. Tapi, semakin luas lahan, keuntungannya akan semakin besar,” paparnya

Biaya pengeluaran sebanyak itu untuk lahan seluas 1 hektare. Tentunya, biaya untuk lahan seluas 280 meter persegi lebih kecil lagi. Roni merinci, biaya penanaman terdiri dari pembibitan, penyangkulan, buruh tani, dan pupuk sekitar Rp 2 juta Selesai penanaman, biasanya ada biaya lagi untuk masa pemeliharaan. Totalnya sekitar Rp 4 juta Ini di luar biaya pengairan yang mencapai Rp 500.000 hingga masa panen. Dalam hitungan Roni, dengan biaya pengeluaran sebesar itu, petani ubi cilembu dengan lahan seluas 280 meter persegi bisa meraih margin keuntungan sekitar 40%.

Kendati dalam setahun bisa dua kali panen, petani ubi cilembu biasanya tidak menanam ubi dalam dua masa tanam berturut-turut. Biasanya, penanaman ini diselingi dengan tanaman padi. Tujuannya adalah menjaga keseimbangan unsur hara di tanah. Selain itu, kondisi tanah bisa membedakan hasil panen di satu tempat dan tempat lain. “Kalau tanahnya lebih subur, hasil panennya bisa besar,” kata Ketua Koperasi Mitra Sumedang Yaya Sutarya itu.

Petani juga harus memperhatikan kondisi cuaca saat menanam ubi cilembu . “Masa paling baik adalah pertengahan musim hujan. Jadi, bisa dipanen waktu musim kemarau,” kata Roni. Pasalnya, lanjut dia, kalau panen di musim hujan kondisi ubi menjadi kurang baik. Rasanya agak pahit.

Perawatan ubi cilembu dalam tiga bulan pertama juga harus intensif. Dalam bulan pertama, para petani biasanya membalik arah jalur tanaman. Misalnya, jika daun tanaman merambat ke kiri, maka diubah ke kanan.

Selain itu, petani juga harus rajin menyiangi tanaman-tanaman ubi. Pengairan juga harus intensif dalam tiga bulan pertama. Setelah tiga bulan, tidak perlu lagi diairi. Yang tidak kalah pentingnya adalah masa penyimpanan setelah panen. Setelah ubi dipanen, jangan langsung dimasak atau dikonsumsi.

Ubi cilembu harus diperam selama dua hingga tiga pekan. Masa pemeraman ini untuk menunggu getah ubi kering. “Bila getah sudah tidak menetes, sudah bisa di-oven,” kata Roni.

Sebenarnya, ubi cilembu ini bisa saja langsung dimasak. Umumnya, setelah diperam hanya perlu waktu sekitar satu jam untuk memasaknya Tapi, jika ubi cilembu tidak diperam, maka untuk memasaknya dibutuhkan waktu sekitar tiga jam (diambil dari catatan Kampung Cilembu, red).

kata kunci: