Peradaban Bangsa Arab Setelah Memeluk Islam

Peradaban Bangsa Arab Setelah Memeluk Islam.
Agama islam yang telah sampai kepada bangsa Arab, merupakan suatu kekuatan moral yang luar biasa. Dari kekuatan moral ini, kemudian merubah sikap hidup yang kuat, menghargai hak-hak kemanusiaan, menghargai benar kaum wanita dengan menegaskan bahwa “Surga itu di bawah telapak kaki kaum ibu”.
Islam meletakan dasar-dasar kepercayaan murni, bahwa keyakinan manusia itu pada Tuhan, bukan lagi pada benda, hawa nafsu dan bukan pula pada kemegahan.Semua kerja kemanusiaan hanyalah untuk Allah semata.Tidak ada yang perlu diper-Tuhan, tidak ada yang perlu dipertuan, kecuali Allah Rabhul-Alamin.Telah tumbanglah Tuhan-tuhan benda yang diciptakan tangan manusia sendiri.“Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul (terakhir), utusan Allah”.
Dari dasar keyakinan inilah, ummat Islam membentuk peradaban baru, membentuk kebudayaan baru, menghasilkan berbagai macam peradaban yang dibudayakan oleh para Ulama, terutama yang berpusat di pusat-pusat kekuasaan Islam, yakni di kota-kota Islam.Pada saat permulaan Islam ini, Islam mulai berkembang di berbagai daerah.Terjadilah pertukaran kebudayaan antara satu negeri dengan negeri lainnya yang sesuai dengan norma-norma Islam. Bidang kebudayaan yang mulai tumbuh pada permulaan Islam, antara lain ialah :
a. Seni bangunan sipil, seperti pembuatan gedung-gedung dan istana serta kantor-kantor pemerintah.
b. Seni bangunan untuk ibadah, seperti masjid-masjid.
c. Seni bangunan pertahanan militer, seperti benteng-benteng pertahanan perang.
Dalam masa pemerintahan Khulafaurrasyidin telah berhasil dibentuk pula beberapa departemen untuk mengurus beberapa bidang, antara lain :
a. An-Nidhamus Siyasy, departemen masalah-masalah politik negeri.
b. An-Nidhamus Idary, departemen administrasi Negara.
c. An-Nidhamus Maly, departemen ekonomi/keuangan.
d. An-Nidhamus Harby, departemen urusan angkatan perang.
e. An-Nidhamus Qadha’, departemen urusan pengadilan/kehakiman.
Disamping itu pertumbuhan Ilmu Pengetahuan mulai timbul pula pada permulaan Islam ini, yakni tumbuhnya ilmu agama, seperti ; Ilmu Tafsir, Qiraat, Ilmu Hadist dan Nahwu.
Al-Qur’an sebagai kitab Suci, mualai dikodifikasikan atau diadakan suatu pembukuan. Hal ini dikerjakan oleh Zaid bin Tsabit atas perintah Khalifah Abubakar As-Shiddiq. Pada masa Khalifah Usman bin Affan, pembukuan ini diperbanyak menjadi 6 buah, disebarkan di berbagai wilayah, yaitu ke Kufah, Basrah, Damsyik, Mekkah, Madinah dan yang sebuah lagi disimpan di rumah Khalifah.
Al-Qur’an yang merupakan sumber dan dasar-dasar ilmu pengetahuan tersebut, sangat diperhatikan oleh para sahabat, maka mereka berusaha menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan perkembangan alam fikiran mereka, serta kemajuan umat itu pada masanya. Adapun para sahabat yang berijtihad menafsirkan Al-Qur’an itu, antara lain Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud dan Ubai bin Kaab.
Dari kegiatan ilmiah para sahabat inilah yang kemudian dilanjutkan oleh Khalifah dan para cerdik-pandai Islam untuk melahirkan berbagai ilmu dunia maupun ilmu agama. Ilmu agama, dihasilkan dengan cara ijtihad dari Kitab Suci dan Sunah Rasul dalam menghadapi permasalahan umat dunia mereka gali dengan cara mengadakan riset atau penyelidikan terhadap potensi dan gejala alamiah.

Baca tulisan yang terkait:

kata kunci:

Tags:

Related Posts

Tinggalkan Balasan