Pengertian istihsan dan kedudukannya sebagai sumber hukum islam

Ushul Fiqih 0

Pengertian Istihsan

Istihsan menurut bahasa artinya “Menganggap sesuatu itu baik” sedang menurut istilah Ulama Ushul Fiqih adalah:

“Istihsan, ialah berpindahnya seseorang mujtahid dari hukum yang dikehendaki oleh qiyas Jally (terang) kepada hukum yang dikehendaki oleh qiyas khafy (samar), atau dari hukum kully (meliputi) kepada hukum yang bersifat pengecualian karena dalil yang dhahir pada akalnya yang menguatkan perpindahan ini”.

Untuk mengetahui Ta’rif  istihsan secara panjang dapat diikuti beberapa pendapat ulama, diantaranya:

  1. Menurut Ulama Malikiah, diantaranya seperti Ibnu Araby berkata: Istihsan, yaitu lebih mementingkan meninggalkan kandungan dalil dengan jalan istisna atau takhsis karena adanya hal yang bertentangan dengan sebagian kandungan dalil tadi.
  2. Menurut Ulama Hanafiah, diantaranya seperti Al-Bazdawi berkata: Ihtihsan, yaitu perpindahan dari satu qiyas ke qiyas yang lain yang lebih kuat dasarnya atau mentakhsis dari qiyas dasar yang lebih kuat.
  3. Menurut Ulama Hambaliah, diantaranya seperti Ath-Tuhfi, berkata: Istihsan, adalah perpindahan penempatan hukum satu masalah karena adanya dasar hukum yang lebih khusus.

Dari beberapa definisi di atas kalau kita padukan, maka Istihsan itu adalah “Suatu kejadian yang timbul yang dapat dimasukkan ke dalam umum nash atau dapat diqiyaskan kepada suatu kejadian yang telah ada hukumnya atau dapat diterapkan hukum kully kepadanya, tetapi nampak kepada mujtahid bahwa kejadian itu mempunyai beberapa keadaan yang tertentu (ciri-ciri khas) yang menyebabkan hilangnya maslahat atau menimbulkan mafsadat, karena itu mujtahid berpindah dari hukum umum kepada hukum yang lain, atau mengecualikan hukum itu dari hukum yang berlaku umum”.

Kedudukan Istihsan Sebagai Sumber Hukum Islam

Dari beberapa pengertian di atas, maka istihsan itu bukanlah sebagai sumber hukum yang berdiri sendiri karena dalam menganalisa suatu kejadian seorang mujtahid hanya dapat memperhatikan kepada yang jelas dan yang samar-samar yang mungkin di dalamnya menghendaki hukum lain dan mujtahid itu kalau menemukan dalil yang menguatkan hal-hal yang tersembunyi dan samar-samar maka dia akan meninggalkan hal-hal yang jelas, demikian juga apabila hukum itu bersifat kully kemudian ada dalil untuk mengecualikan sebagian hukum kully dan bagi sebagiannya itu ditetapkan hukum yang lain.

Jadi istihsan ini fungsinya hanya untuk menguatkan qiyas khafi dan pengecualian sebagian dari hukum kully dengan dalil. Karena itu istihsan bukan sebagi sumber hukum. Untuk lebih jelasnya ikuti keterangan berikut ini.

Pendapat Ulama Tentang Kehujjahan Istihsan

Ada perselisihan ulama mengenai kehujjahan istihsan, disebabkan perbedaan ta’rif terhadap istihsan, di antara perbedaan itu adalah:   

  1. Menurut Ulama penganut madhab syafi’iyah seperti Ibnu Hazm, menyatakan bahwa Istihsan itu kedudukannya bukan dalil syara, sebab orang yang menggunaka istihsan sama dengan menetapkan syariat atas keinginan hawa nafsunya, yang mungkin benar atau mungkin salah, seperti mengaharamkan sesuatu dengan tanpa dalil.
  2. Menurut ulama Malikiah dan Hambaliah menetapkan, bahwa Istihsan adalah suatu dalil syara’ yang kehujjahannya dapat digunakan untuk menetapkan hukum terhadap sesuatu yang ditetapkan oleh qiyas atau umum nash.
  3. Menurut Ulama Hanafiah, bahwa kehujjahan istihsan dapat dipergunakan, dengan alasan bahwa berdalil dengan qiyas khafi atau berdasar ihtihsan itu sebenarnya juga berdalil dengan qiyas khafi atau berdasar istihsan, dan kehujjahan qiyas atau Masalih mursalah itu dapat diterima, seperti orang yang dititipi barang, kalau barangnya rusak maka yang dititipi barang harus mengganti, hukum mengganti itu termasuk kepada istihsan. Contoh lain: Memandang kelebihan air yang diminum burung buas itu tidak najis, juga seperti memesan sesuatu untuk dibuatka pada orang lain.
  4. Menurut Imam As-Syatiby dalam kitab Al-Muafakat yang dikutif oleh Abdul Wahab Khalaf, ia berpendapat bahwa barang siapa yang beristihsan yang semata-mata dia itu kembali kepada perasaan dan hawa nafsunya, tetapi dia kembali kepada kepada apa yang diketahuinya daripada maksud syara’ secara keseluruhan mengenai kejadian-kejadian yang dihadapinya.

Baca tulisan yang terkait:

kata kunci:

Tags:

Related Posts

Tinggalkan Balasan