Kedudukan Ijma sebagai sumber hukum Islam

Ushul Fiqih 0

 Ijma Sebagai Sumber Hukum

Jika ditinjau dari pengambilannya, ulama Syafi’iah telah sepakat bahwa kedudukan ijma adalah sumber hukum yang ketiga setelah Qur’an dan Hadist. Ada pula setengah ulama yang menambah dengan istihsan, istihah, urf, dan istishab. Jadi pengambilan hukum yang wajib diikuti oleh semua kaum muslimin hanya Qur’an, Hadist, Ijma mujtahidin, dan qiyas.

Jika suatu persoalan yang tidak didapati dalam Qur’an dan Sunnah maka untuk memutuskan persoalan tersebut hendaklah mencari hasil ijma, sebab Allah telah menyuruh umatnya untuk mentaati ulil amri, sebagai maa yang tersebut dalam Al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul Nya, dan Ulil amri di antaramu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa 59).

Karena ijma tidak berdiri sendiri maka para mujtahidin biasanya menyandarkan ijma kepada qiyas, seperti ijma atas haramnya lemak babi karena diqiyaskan denga dagingnya, dan haramnya lemak babi dapat diambil sebagai hukum dari hasil ijma (Sumber hukum untuk menetapkan haramnya lemak babi adalah dari hasil Ijma)

Pengingkaran Terhadap Ijma

Apabila sudah terjadi Ijma itu menjadi hujjah yang pasti (Qath’i) apabila mengingkari ijma berarti mengingkari hujah yang qath’i dan menentang kepada petunjuk Allah untuk mentaati ulil Amri, tetapi ada perbedaan pendapat tentang ijma yang didasarkan kepada qiyas yang dibantah oleh para mujtahid, maka pembatahan terhadap qiyas di sini berarti pula membantah ijma dan jika ada yang mengingkari kehujjahan ijma, karean qiyas tersebut didasarkan pada ijma, begitu juga bagi orang yang mengakui kehujjahan qiyas berarti ia harus mengakui kehujjahan ijma.

Menurut sebagian ulama bahwa mengingkari hukum hadis ijma sharih adalah kufur, misalnya mengingkari ijma shahabat yang diriwayatkan secara mutawatir. Ada lagi yang berpendapat bahwa mengingkari hukum ijma itu tidak kufur karena dalil kehujjahan ijma adalah dhanny bukan qath’i. Jadi mengingkari hukum hasil ijma Dhanny tidak sampai kepada kufur.

Baca tulisan yang terkait:

kata kunci:

Tags:

Related Posts

Tinggalkan Balasan